Jumat, 24 Januari 2020

Masalah Banjir di Kabupaten Bekasi 1 Januari 2020

Alih Fungsi Lahan, Pendangkalan Sungai dan Sampah

  

Banjir meluluhlantakkan sebagian daerah di Jabodetabek pada tanggal 1 Januari 2020. Akibat banjir yang cukup parah, menyebabkan korban mengungsi bahkan ada yang meninggal dunia. Catatan BNPB lebih dari 511.471 jiwa terdampak banjir Jabodetabek serta lebih dari 60 orang meninggal dunia


Cikarang (BIB) - Kabupaten Bekasi merupakan salah satu daerah terdampak banjir pada tanggal 1 Januari 2020. Data awal per 1 Januari 2020 pada pukul 14.30 wib, sebanyak 15 titik banjir terpantau yang tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Bekasi.

Bahkan ketinggian air di lokasi banjir di Kabupaten Bekasi mencapai 3 meter.

Sedikitnya 1.355 Kepala Keluarga dan 3.123 jiwa menjadi korban terdampak banjir di Kabupaten Bekasi. 

Dari data yang dihimpun BMKG, cuaca ekstrim pada malam tahun baru 2020 memang sangat mencekam. Sejak kejadian banjir tahun 2002 yang merata di Jabodetabek, curah hujan tertinggi justru terjadi pada awal Januari 2020. 

Pada tahun 2002 curah hujan tertinggi saat banjir berada pada angka 168 mm/hari. Tetapi di tahun 2020 ini curah hujan mencapai 377 mm/hari atau setara dengan 224,40% dari tahun 2002.

Makanya tidak heran korban terdampak banjir se Jabodetabek mencapai kurang lebih 0,5 juta orang.


BANJIR 2020

Data Dampak Banjir yang dirilis BNPB per 8 Januari 2020
Sebanyak 11 kecamatan dari 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah terdampak banjir pada tanggal 1 Januari 2020. Ada sekitar 32 titik banjir yang terpantau oleh BNPB.

Ketinggian banjir di Kabupaten Bekasi bervariasi mulai dari 30 cm hingga yang paling parah mencapai 3 meter.Korban terdampak banjir mencapai 3.123 jiwa dengan jumlah kepala keluarka sekitar 1.355 KK. Sedangkan jumlah korban meninggal di Kabupaten Bekasi sebanyak 1 orang.

Berikut ini adalah sebagian titik banjir yang terpantau dan dilaporkan oleh masyarakat :

1. KECAMATAN CIKARANG PUSAT
  1. Parung Lesang dan Tanjung Lesung di Desa Pasirranji ketinggian banjir 30 cm s/d 70 cm dengan korban terdampak banjir 10 KK,
2. KECAMATAN CIKARANG BARAT
  1. Perum Kalijaya, Desa Kalijaya ketinggian air 30 cm s/d 80 cm,
  2. PT Sliontec dan PT Mandom di Kawasan MM2100 di Jl. Irian, Desa Jatiwangi.
3. KECAMATAN CIKARANG SELATAN
  1. Perum BCM dengan ketinggian banjir sekitar 50 cm.
4. KECAMATAN CIKARANG UTARA
  1. Kp. Cibeber RT.009 RW.08, Jl. Selayar, Desa Karangraharja
5. KECAMATAN TAMBUN SELATAN
  1. Perumahan Jatimulya di RW.011, Kelurahan Jatimulya dengan ketinggian banjir 30 cm s/d 150 cm,
  2. Kp. Tambun RT.006 RW.01, Desa Tambun, ketinggian banjir mencapai 50 cm s/d 80 cm. Di daerah ini jumlah jumlah terdampak banjir mencapai 200 KK,
  3. Perumahan di Desa Tridayaindah, ketinggian air 100 cm,
  4. Perumahan Papan Mas di Desa Mekarsari ketinggian air mencapai 100 cm,
  5. Perumahan Metland di Desa Tambun ketinggian air mencapai 50 cm,
  6. Perumahan Villa Setia Mekar di Desa Setiamekar ketinggian air mencapai 30 cm s/d 80 cm.
6. KECAMATAN TAMBUN UTARA
  1. Perum Graha Prima di Desa Satriajaya,
  2. Taman Kintamani, Desa Jejalen.
7. KECAMATAN CIBITUNG
  1. Perum Villa Mutiara Wanasari, RT.007 RW.034, ketinggian air 60 cm,
  2. Perum Grama Puri, Desa Wanasari dengan ketinggian banjir mencapai 50 cm,
  3. Perum Trias, Desa Wanasari,
  4. Perum Mustika Wanasari,
  5. Vila Mutiara Jaya Blok M.32/22 Desa Wanajaya, ketinggian air mencapai 60 cm.
8. KECAMATAN SETU
  1. Griya Rahayu Regency, Desa Taman Rahayu ketinggian air 100 cm,
  2. Griya Pratama Mas, Desa Cikarageman dengan ketinggian banjir mencapai 100 cm dan korban terdampak banjir sekitar 400 KK.
9. KECAMATAN SERANGBARU
  1. Perum Telaga Harmoni Residence, Desa Sukasari dengan ketinggian banjir mencapai 140 cm dan korban terdampak banjir sekitar 250 KK.
10. KECAMATAN BABELAN
  1. Perum Vila Gading Harapan
  2. Kelurahan Kebalen ketinggian air 30 cm s/d 60 cm
  3. Desa Babelankota ketinggian banjir mencapai 30 cm s/d 60 cm.
11. KECAMATAN TARUMAJAYA
  1. Desa Segaramakmur dengan ketinggian air mencapai 50 cm s/d 60 cm.
Dan berdasarkan data per 2 Januari 2020, Pusdalops BPBD Kabupaten Bekasi mencatat sedikitnya ada 9 titik pengungsian korban banjir awal tahun, diantaranya di;
  • Perum Vila Mutiara Wanajajaya Blok M, N (Metland Cibitung), Kecamatan Cibitung;
  • Perum Mustika Wanasari (Tokma) Kecamatan Cibitung;
  • Perum Hosfa Graha Wanasari (Masjid H. Rosyid Ardiayana) Kecamatan Cibitung;
  • Perum Grama Puri Persada Wanasari (Kecamatan Cibitung);
  • Kampung Kali Ulu, Desa Karangraharja (dekat SPBU GCC) Kecamatan Cikarang Utara;
  • Desa Babelankota (Kantor Camat) Kecamatan Babelan;
  • Perumahan Jatimulya (Kantor Kelurahan Jatimulay) Kecamatan Tambun Selatan;
  • Perumahan Mustika Gandaria, Kecamatan Setu; dan
  • Perum Griya Setu Permai, Kecamatan Setu.
Banjir di Kabupaten Bekasi menelan korban 1 orang.

PENYEBAB BANJIR

Untuk mengatasi banjir di Kabupaten Bekasi, kita harus terlebih dahulu mengetahui penyebab terjadinya bencana banjir itu sendiri.

Berdasarkan analisa dari Anggota Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (TKPSDA WS Cilcis), Tengku Imam Kobul Moh. Yahya S sedikitnya secara global 3 hal penyebab banjir di Kabupaten Bekasi, yaitu;
  • Alih Fungsi Lahan di Hulu,
  • Drainase/Sungai Kecil Terjadi Pendangkalan, dan 
  • Air Laut. (Banjir Rob).

a. Alih Fungsi Lahan di Hulu

Peta DAS di Kab. Bekasi
Perlu diketahui wilayah Kabupaten Bekasi dilewati oleh 3 DAS besar, yaitu; (1) DAS Citarum dan anak sungainya, (2) DAS Bekasi dan anak sungainya, dan (3) DAS Blencong. Dari ketiga DAS (daerah aliran sungai) tersebut, DAS Bekasi merupakan yang terluas.

Luas DAS Bekasi yang melewati Kabupaten Cikarang mencapai 85.104,12 ha. DAS Bekasi di Kabupaten Bekasi terdiri dari Subdas [Kali] Cikarang, Subdas [sodetan/kanal] CBL, Subdas [Kali] Cilemahabang dan beberapa anak sungai yang melewatinya.

Untuk luas DAS Citarum yang melewati Kabupaten Bekasi mencapai 35.544,49 ha. DAS Citarum di Kabupaten Bekasi terdiri dari Subdas [Kali] Cibeet dan Subdas [Kali] Cipamingkis.

Sementara DAS Blencong memiliki luas sekitar 6.094,54 ha. DAS Blencong ini hanya melewati Kecamatan Tarumajaya dan sebagian Kecamatan Babelan. 

Ketiga DAS ini (Citarum, Bekasi, dan Blencong) merupakan kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR/Pusat) dibawah kendali Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWS Citarum) untuk DAS Citarum dan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane untuk DAS Bekasi dan DAS Blencong.

DAS Citarum hulunya di wilayah Kabupaten Bandung Barat, DAS Bekasi hulunya di Kabupaten Bogor dan DAS Blencong merupakan kumpulan aliran sungai-sungai kecil di Kota Bekasi bagian barat dan utara hingga mengalir ke laut melewati Kecamatan Tarumajaya dan sebagian Kecamatan Babelan.

BACA JUGA :

Nah, jika banjir disebabkan karena air meluap oleh ke-3 DAS tersebut, dapat dipastikan penyebab banjir nya karena maraknya alih fungsi lahan di hulu sungainya. Sehingga untuk mengatasinya perlu kerja sama dengan pemerintah daerah dan komitmen Pemerintah Pusat untuk menanggulangi kerusakan lahan di hulu.

b. Drainase/Sungai Kecil Terjadi Pendangkalan

Lautan Sampah di Kali Jambe, foto: istimewa
Ada juga penyebab banjir di Kabupaten Bekasi karena disebabkan hanya kejadian hujan lokal, tetapi drainase tidak dapat menampung air akibat sedimentasi dan tersumbat sampah.

Di Kabupaten Bekasi hampir seluruh drainase belum terintegrasi dengan baik. Bahkan menurut pengamatan Bang Imam, panggilan akrab Tengku Imam Kobul Moh. Yahya yang juga aktifis lingkungan ini, rancangan drainase terpadu untuk pencegahan mitigasi banjir belum dibuat di Kabupaten Bekasi.

Kalaupun ada hanya sebatas cathment area skala perumahan, kawasan atau lingkungan. Keluar dari lingkungan yang sudah rapi tersebut kembali amburadul, tidak jelas arah alirnya lagi.

Di Kabupaten Bekasi selain dilewati 3 DAS besar yang merupakan kewenangan pusat, juga terdapat sedikitnya 17 sungai, yaitu;
  1. Sungai Citarum,
  2. Sungai Bekasi,
  3. Sungai Cikarang,
  4. Sungai Ciherang,
  5. Sungai Blencong,
  6. Sungai Jambe,
  7. Sungai Sadang,
  8. Sungai Cikedokan,
  9. Sungai Ulu,
  10. Sungai Cilemahabang,
  11. Sungai Cibeet,
  12. Sungai Cipamingkis,
  13. Sungai Siluman,
  14. Sungai Srengseng,
  15. Sungai Sepak,
  16. Sungai Jaeran, dan
  17. Sungai Kalimalang.
Beberapa anak sungai hingga ordo 7 juga terdapat di wilayah Kabupaten Bekasi. Nah, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan dari pertanian (sawah) yang saat ini marak berubah menjadi perumahan, industri, jalan dan kegiatan perkotaan lainnya, akan menjadikan bencana banjir lokal setiap tahun menghantui Kabupaten Bekasi.

Sehingga jangan heran, jika ancaman banjir ke depan bukan cuma berasal dari 3 DAS diatas, tetapi bisa kejadian banjir dasyat akibat ketidakberesan pengelolaan lingkungan di tingkat lokal. Hal ini dikarenakan, adanya;
  1. pendangkalan anak sungai/drainse akibat sedimentasi atau lumpur, hal ini karena tidak ada pembersihan (normalisasi) dari Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk mengangkat sedimentasi di sungai-sungai atau drainase kota. Banjir lokal akan terjadi juga di wilayah komplek perumahan karena drainase (got) tertutup bangunan, sehingga air justru mengalir di jalan;
  2. buang sampah sembarangan juga menjadi salah satu penyebab banjir lokal, pada tahun 2019 terjadi pendangkalan di Kali Jambe akaibat tertutup sampah. 
  3. masyarakat mengubah garis sempadan bangunan (GSB) yang seharusnya menjadi RTH prifat, tempat membuat sumur resapan dan ruang terbuka hijau lainnya dijadikan bangunan. Padahal, sedianya GSB perumahan yang luasnya sekitar 3x3 meter atau 3x4 meter itu diperuntukkan untuk mengandalkan pencegahan banjir dan menampung/memasukkan air kembali ke tanah yang berasal dari atap rumah masing-masing.
Jadi, banjir bisa saja terjadi di lokal skala perumahan, permukiman, kawasan maupun skala RT/RW jika kondisi seperti sedimentasi atau lumpur tidak dikeruk, buang sampah sembarangan dan masyarakat merubah fungsi GSB menjadi bangunan.

c. Air Laut (Banjir Rob)

Banjir Rob di Muaragembong, foto: istimewa
Karena Kabupaten Bekasi juga memiliki daerah pantai, seperti di Kecamatan Tarumajaya, Kecamatan Babelan dan Kecamatan Muaragembong, maka banjir rob akibat tingginya muka air laut selalu akan mengancam ke-3 daerah ini.

Pada musim-musim tertentu, air laut terjadi pasang yang mengakibatkan sebagian daratan di pinggir pantai menjadi tergenang banjir.

Jika ditambah dengan banjir genangan yang berasal dari sungai, maka dampak banjir diwilayah pesisir Kabupaten Bekasi akan semakin runyam.

SOLUSI BANJIR

Banjir di Kabupaten Bekasi akan tertangani apabila ada koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat dan masyarakat (dunia usaha). Sebab, banjir disebabkan oleh 3 hal diatas merupakan kewenangan bersama untuk mengatasinya.

Untuk mengatasi alih fungsi lahan perlu konservasi di daerah hulu dengan mempertahankan dan menambah luasan hutan yang sudah berubah menjadi tempat tinggal (vila) dan kebun. Sedangkan sedimentasi, sampah dan tutupan drainase got di permukiman bisa dibuatkan aturan ketat dan menganggarkan perbaikan, normalisasi dilakukan setiap tahun jelang musim hujan tiba.

Banjir rob selain dengan antisipasi membuat alternatif tanggul penahan air laut, juga lebih efektif membuat hutan-hutan mangrove di sepanjang pantai dan muara sungai di hilir Kabupaten Bekasi.

Bisa juga dengan memfungsikan kembali 13 situ yang ada di Kabupaten Bekasi sebagai pengendali banjir atau tampungan sementara saat musim penghujan. Situ yang terdapat di Kabupaten Bekasi adalah:
  1. Situ Tegal Abidin,
  2. Situ Bojongmangu,
  3. Situ Bungur,
  4. Situ Ceper,
  5. Situ Cipagadungan,
  6. Situ Cipalahar,
  7. Situ Ciantra,
  8. Situ Taman,
  9. Situ Burangkeng,
  10. Situ Liang Maung,
  11. Situ Cibeureum,
  12. Situ Cilengsir, dan
  13. Situ Binong.
Saat ini luas situ bervariasi antara 3 ha sampai dengan 40 ha. Jika dinfungsikan sebagai penampung air atau pengendali banjir dengan baik, maka fungsi situ di Kabupaten Bekasi sangat bermanfaat untuk mengendalikan banjir lokal.

Dengan demikian, dapat diminimalisisr dampak korban banjir yang akan terjadi.

Tetapi, dalam waktu dekat tentu banjir masih menghantui wilayah di Kabupaten Bekasi, baik banjir yang disebabkan oleh meluapnya 3 DAS besar maupun banjir yang disebabkan drainse/sungai kecil yang meluap serta pasang air laut.

Jadi, solusi dekatnya, sebaiknya masyarakat harus lebih bersabar lagi dengan tagline "Barsahabat Dengan Banjir"...

Info Grafik Bendana di Indonesia hingga 22 Januari 2020, sumber :BNPB
Catatan : titik banjir yang tercatat, bukan berarti seluruh wilayahnya terdampak banjir, bisa saja hanya beberapa Blok saja di perumahan, beberapa jalan tergenang, dan beberapa RT atau RW yang tergenang banjir.

Data banjir yang belum di up date karena saat pencatatan petugas terlewat, sekalipun sudah dilaporkan.
 
#Banjir
#KabupatenBekasi
#BangImamBerbagi
#2020

1 komentar:

silahkan memberikan komentar yang tidak menghasut, memfitnah, dan menyinggung sara dan komentar menjadi tanggung jawab pemberi komentar. jika komentar lebih panjang dan memerlukan jawaban bisa ke email: bangimam.kinali@gmail.com, WA 0857 3998 6767, twitter: @BangImam, fb: Bang Imam Kinali Bekasi, ig: bangimam_berbagi