Rabu, 02 Juli 2014

Fisabilillah dan 7 Tekong Beras

dari foto ini sudah banyak yang almarhum
Foto sebelum prosesi khatam Al-Qur'an
Hari ini saya menjalankan ibadah puasa yang ke-6. Karena saya memulai puasa pada Sabtu, 28 Juni 2014.

Tulisan yang akan saya ungkapkan ini adalah pengalaman pribadi saat masih berusia antara siswa SMP hingga SMA di kampung (1991-1996).

Saya besar dan bersekolah di Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat. Alamat lengkapnya kami biasa menulis Dusun Lembah Pasaman I, Lapau Tempurung (Tampuruang), Desa IV Koto (Jorong), Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat. Saat saya masih tinggal dan bersekolah, daerah kami masih gabung dengan Kabupaten Pasaman yang beribukota di Lubuk Sikaping. 

Namun sejak Desember sesuai dengan UU Nomor 38 Tahun 2003, Kabupaten Pasaman Barat terbentuk dan memisahkan diri dari Kabupaten Pasaman.

Di dalam peta google kampung saya itu terlihat dan terbaca dengan Rimboe Tempurung. Karena memang sebelumnya kampung itu masih dikelilingi hutan belantara. Tapi sekarang sudah berubah menjadi kebun sawit milik pemerintah.

Tadarus & Bulan Puasa

Di kampung saya setiap bulan puasa sangat terasa dan berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Dimana khusus untuk anak laki-laki hingga orang dewasa biasanya sehabis Sholat Tarawih dan Witir tidak meninggalkan mesjid. Kalaupun pulang sebentar hanya untuk makan dan berganti pakaian.

Umumnya dalam memeriahkan malam Ramadhan, tepatnya di Mesjid Muhajirin seluruh laki-laki mengikuti tadarus Al-Qur'an yang difasilitasi oleh imam dan pengurus mesjid. Tadarus dilakukan mulai dari sehabis sholat Tarawih hingga jelang Sahur sekitar pukul 03.30-04.00 Wib. 

(Masjid Muhajirin ini dulunya tergolong megah di kampung saya. Bangunan ini tercipta karena janji kampanye PPP waktu itu karena memang di tempat saya)

Tadarus dilakukan secara bergiliran. Posisi jamaah duduk membuat lingkaran. Setiap jamaah mengaji dengan membaca AL-Qur-an antara setengah halaman hingga 1 halaman. Tiap malam bisa tuntas antara 1-2 juz. Sehingga akhir Ramadhan bisa khatam 2 kali.

Setiap malam, warga dan jamaah berlomba-lomba mengirimkan makanan untuk yang ikut tadarusan. Ada kolak pisang, buah-buahan, bubur manis (biasanya dari beras), minuman buah dingin, hingga makanan berat. Bahkan ada juga yang mengantarkan nasi bungkus untuk sekaligus sahur bersama.

Saat mengaji dan tadarus, semua peserta bergiliran dengan memakai mik (pengeras suara). Sehingga setiap peserta tadarus dipastikan terdengar suara merdu alunan irama tajwidnya.

Oh ya, sewaktu saya masih kecil, anak-anak seusia saya hampir semua bisa baca Al-Qur'an dan rata-rata pernah khatam.

Jika sudah menjelang Sahur, sekitar pukul 03.00 Wib, yang masih bergiliran tadarus sesekali akan mengumumkan lewat mik agar masyarakat terutama kaum ibu untuk bangun dan masak hidangan sahur.

"Diberitahukan kepada ibu-ibu agar segera bangun dan masak untuk santap sahur. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 Wib. Saaaahuuuuurrrr....saaahuuuurrr...saaahuuurrr," begitu kira-kira artinya, karena disana pengumuman dilakukan dengan bahasa setempat.

Oh...ya di Pasaman Barat warga masyarakat disana cukup heterogen. Ada yang asli Minangkabau, asal Batak (umumnya beragama Kristen), asal Mandailing/Tapanuli (umumnya mereka yang beragama Islam), asal Jawa, asal Sunda, dan ada juga sedikit Tionghoa dan suku lainnya.

Batak dan Mandailing umumnya bertempat tinggal tidak jauh dari pasar, kota dan kampung yang sudah ramai. Ada juga yang bermukim dengan membentuk komunitas kecil kampungnya sendiri, biasa disebut dusun.

Kalau asal Jawa, Sunda dan lainnya biasanya bermukim di perusahaan dan kebun sawit yang memiliki Plasma/Inti atau semacam perkampungan kecil ditengah-tengah perkebunan. Saya sendiri tinggal persis di pinggiran Pasar Tempurung. Yaitu pasar yang buka setiap hari Ahad, dan ramai hanya waktu antara pagi hingga siang hari.

Kembali ke tadarus. Sekalipun banyak anak laki-laki yang ikut ke mesjid, tidak semua mau ikut tadarusan. Ada juga anak yang numpang tidur dan kalau sudah jelang sahur baru pulang ke rumah untuk ikut bersantap sahur atau membangunkan ibunya.

Usai tadarusan, tibalah saatnya kami anak laki-laki pulang ke rumah bersantap sahur bersama keluarga. Tidak seperti di Jakarta, di kampung saya bersantap sahur itu hanya dengan nasi dan sayur-sayuran. Jikapun ada lauk, mungkin cuma ikan asin atau telor. Itupun hanya sekali seminggu. 

Untuk makan daging baik daging sapi, kerbau atau ayam, banyak masyarakat kami yang hanya merasakan 1-2 kali setahun. Termasuk keluarga saya tentunya.

Setelah selesai makan sahur, kami biasanya pergi kembali ke mesjid untuk melaksanakan sholat shubuh. Jika tidak ada kerjaan dipagi harinya, umumnya anak menghabiskan tidurnya di masjid. Tapi jika ada kerjaan ke sawah atau ke kebun baru bersiap-siap untuk berangkat bekerja.

Begitulah kegiatan rutin hingga jelang akhir Ramadhan. Di sisa akhir antara 3-5 hari, biasanya pihak mesjid mengadakan khatam Al-Qur'an yang sudah ditadaruskan. Khatam dilakukan dengan kenduri dan makan besar seluruh masyarakat se kampung. Hal ini mirip seperti kenduri dan hajatan.

Begitupun saat-saat jelang berbuka. Biasanya anak-anak mengaji di mesjid. Sebagiannya lagi yang punya jiwa dagang biasa menjajakan es batu yang sudah dikasih gula dan warna, umumnya warna merah biar mempesona.

Saya sendiri tidak punya jiwa dagang. Kebiasaan saya sehari-hari jelang berbuka, kadang-kadang secara bergantian dengan kakak perempuan saya memasak nasi dan membuat makanan takjil. Takjil yang umum di kampung saya adalah bubur manis dan es batu manis tadi. Ada juga yang membuat buah-buahan segar dengan kuah.

Hari Raya

Malam Idul Fitri adalah malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang. Termasuk saya tentunya. Malam itu semua anak kembali berduyun-duyun ke mesjid untuk mengumandangkan takbir.

"Allohu Akbar 3x.. Lailaha illlohu wallohu akbar. Allohu akbar walillahil hamda' ... kumandang takbir ini terdengar bersahut-sahutan diiringi gemuruh bedug yang dipukul oleh anak-anak. Sesekali ada juga yang menyalakan petasan, lilin dan kembang api diluar mesjid.

Malam Takbiran selain bertakbir, panitia mengumpulkan zakat fitrah. Masyarakat beramai-ramai membayar zakat fitrah di mesjid. Di kampung saya, baik miskin maupun kaya biasanya tetap membayar zakat. Tidak ada yang ngoyo, karena mereka sudah mempersiapkan untuk itu.

Takbir di mesjid di kampung saya dilaksanakan dari habis Isya hingga jelang Shubuh. Anak-anak memakai mik bergantian bertakbir dan bersahut-sahutan. Hingga menjelang pagi setelah selesai mengumpulkan zakat, Amil kemudian membagi kepada 8 golongan yang berhak mendapatkannya sesuai tuntunan agama.

Saya adalah termasuk yang mendapatkan bagian zakat tersebut. Mungkin saya dianggap fisabilillah karena keseharian saya adalah sebagai guru ngaji. Alhamdulillah, bagian saya antara (kalau tidak salah) 7-12 tekong. Ukuran ini biasa dilakukan untuk mengukur beras di kampung saya. Tekong itu adalah kaleng susu atau sejenisnya. 

Ukuran beras dan takaran di kampung saya dimulai dari yang terkecil, yaitu tekong, tabung (sekitar 5 liter) hingga kaleng. 

Kebetulan sehari-harinya saya memang sebagai guru ngaji di kampung, sekalipun usia saya antara 12-18 tahun saya sudah guru ngaji. Karena sejak kelas 4 SD saya sudah khatam Al-Qur'an. Di kampung saya rata-rata anak bandel sekalipun di jaman saya memang bisa baca Al-Qur'an.

Sekarang kampung itu sudah tidak ada lagi. Karena ada kejadian perselisihan antara warga asli dengan pendatang di tahun 1999. Warga asli membakar kampung pendatang. Sekalipun ada yang tersisa, saat saya mengunjungi kampung saya itu tahun 2011 lalu, pengalaman saya mengaji, tadarus, bertakbir, dan mendapatkan zakat sebagai fisabilillah telah terkubur dan terbakar hangus seiring perselisihan 15 tahun lalu.

Saya sangat rindu suasana di kampung, saat bulan suci Ramadhan ini sudah saya rasakan hampir 17 tahun tinggal di Bekasi.

Ya... Allah ampuni dosa kami, terima kasih telah mengangkat derajat hamba-Mu ini yang tidak lagi sebagai penerima zakat (fisabilillah), tapi menjadi pembayar zakat. Terima kasih ya Allah, terima kasih untuk Ibu yang sudah dipanggil dan ayah yang sudah pindah di Batang Toru.

Lebaran atau Idul Fitri untuk anak-anak seusia saya baru merasakan baju baru dan jalan-jalan wisata. Baju baru hanya dirasakan saat jelang lebaran. Tidak pernah saya rasakan memiliki baju baru diluar Lebaran.

Sedangkan jalan-jalan biasanya rombongan dengan mencarter mobil bak terbuka (truk). Tujuan wisat biasa ke Pantai Sasak, Pantai Air Manis, Pantai Tanjung, Teluk Bayur, Bukittinggi, Pantai Air Bangis, Air Hangat Rimbo Panti, Bukittinggi, Padang, Tiku, Danau Maninjau, Ikan Larangan Silambau, dan lainnya.

Alhamdulillahi Robbil 'Alamiin...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberikan komentar yang tidak menghasut, memfitnah, dan menyinggung sara.

komentar menjadi tanggung jawab pemberi komentar.

jika komentar lebih panjang dan memerlukan jawaban bisa ke bangimam.kinali@gmail.com dan SMS/WA 085739986767

twitter: @BangImam

facebook: Bang Imam Kinali Bekasi