Kota Bekasi (BIB) - Berdasarkan hasil penelitian dan kajian tim Direktorat Bidang Pendidikan, Lembaga Swadaya Masayarakat SAPULIDI di bulan Maret 2015, kondisi SMA Swasta di Kota Bekasi cukup memprihatinkan.
"90 persen diambang kebangkrutan. Kajian kita 3 tahun terakhir pelaksanaan PPDB Online, SMA swasta tidak kebagian murid. Bahkan data perbandingannya jumlah satu SMA Negeri sama dengan jumlah murid seluruh SMA Swasta di satu kecamatan," kata Tengku Imam Kobul Moh. Yahya S, Direktur Pendidikan Lembaga Swadaya Masyarakat SAPULIDI di Bekasi, Ahad, 12 April 2015.
Selain ketiadaan murid yang masuk ke SMA swasta, banyak sekolah tersebut yang hanya berdiri dengan sarana dan prasarana apa adanya.
"Ibaratnya hidup segan mati tak mau," jelas Bang Imam, panggilan akrab pemerhati pendidikan yang tinggal di Bekasi ini.
Bahkan sekalipun memiliki jumlah tenaga pendidik dan kependidikan (PTK) cukup banyak, sekolah swasta tidak berani menampilkan dan mendaftarkan ke Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Pendidikan Menengah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
"Yang terdaftar di Dapodik adalah guru dan pegawai yang berstatus aktif mendapat penugasan dan bekerja di sekolah induk. Artinya guru dan pegawai tersebut merupakan guru tetap yayasan (GTY) di salah satu sekolah. Dan jika guru itu nyambi mengajar di tempat lain, maka data tidak termasuk yang dihitung. Jadi guru dan pegawai hanya dihitung 1 kali," terangnya.




