Minggu, 27 Februari 2011

UNDANGAN PRA-KUALIFIKASI ICWRMIP DI BEKASI

Proyek kegiatan di Bekasi (Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang) untuk LSM untuk membentuk dan mengelola Tim Fasilitator Masyarakat (TFM) yang akan mendampingi masyarakat melaksanakan kegiatan ditingkat desa/kelurahan untuk kegiatan tahun 2011 - 2012.

Iklan di Koran Tempo, Kamis, 24 Pebruari 2011

Sabtu, 26 Februari 2011

Hasil Studi: Lumpur Lapindo Terus Menyembur Hingga Tahun 2037

REPUBLIKA.CO.ID, Berdasarkan studi yang dirilis di Journal Geological Society London, kawasan yang lebih sering disebut LUSI (singkatan dari  “Lumpur” dan “Sidoarjo”) kemungkinan akan menyemburkan lumpur abu sampai tahun 2037, akibat tekanan dari dalam bumi. Volume akan berkurang, tapi gas akan terus meresap selama puluhan tahun dan mungkin abad mendatang.

"Perkiraan kami adalah bahwa hal itu akan memakan waktu 26 tahun hingga letusan melemah ke tingkat yang dapat dikelola dan untuk Lusi untuk berubah menjadi gunung berapi yang bergolak pelan," demikian ketua tim Richard Davies, profesor ilmu bumi di Durham University Inggris.

Letusan Lusi di tahun 2006 menewaskan 13 orang.  Pada puncaknya, gunung berapi menyembur lumpur sebanyak 40 kolam renang ukuran Olimpiade per harinya. Danau lumpur mengepung 12 desa dengan kedalaman hingga 15 meter dan memaksa sekitar 42.000 orang meninggalkan rumah mereka. Menurut studi, orang tidak bisa kembali ke kawasan, ancaman gunung berapi mungkin akan meningkat.

Di tengah danau, atau gunung berapi, muncul bukaan yang lebarnya 50 meter, tetapi ada sejumlah retakan lainnya yang muncul selama 4 tahun terakhir. Bukaan-bukaan ini juga timbul di jalanan, rumah atau pabrik. Sejumlah retakan bahkan bisa membakar. Sudah ada laporan warga cedera akibat api.

Pemerintah Indonesia mengatakan sumber bencana adalah letusan akibat gempa bumi yang melanda beberapa hari sebelumnya, sekitar 280 km dari Lusi.

Namun para ahli asing menuduhperusahaan pengeboran gas Lapindo Brantas yang gagal  menempatkan pelindung di sekitar bagian sumur bor tersebut. Akibatnya, lubang sumur terkena dorongan air bertekanan dan gas yang terletak di bawah lapisan, sehingga mendesak cairan seperti beton ke permukaan.
 
Red: Krisman Purwoko
Sumber:
RNW/AFP/Republika Online

Jumat, 25 Februari 2011

Apa yang harus diperbuat terhadap Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)


Sanitasi Total adalah kondisi ketika suatu komunitas :

1. Tidak Buang Air Besar (BAB's) Sembarangan.

2. Mencuci Tangan Pakai Sabun.

3. Mengelola Air Minum dan Makanan yang Aman.

4. Mengelola Sampah Dengan Benar.

5. Mengelola Limbah Cair Rumah Tangga Dengan Aman.
 
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah satu Program Nasional di bidang sanitasi yang bersifat lintas sektoral. Program ini telah dicanangkan pada bulan Agustus 2008 oleh Menteri Kesehatan RI. STBM merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.

Strategi Nasional STBM memiliki indikator outcome yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku. Sedangkan indikator output-nya adalah sebagai berikut:

·         Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF).

·         Setiap rumahtangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga.

·         Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.

·         Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar.

·         Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.

STBM mulai diuji coba tahun 2005 di 6 kabupaten (Sumbawa, Lumajang, Bogor, Muara Enim, Muaro Jambi, dan Sambas). Sejak tahun 2006 Program STBM sudah diadopsi dan diimplementasikan di 10.000 desa pada 228 kabupaten/kota. Saat ini, sejumlah daerah telah menyusun rencana strategis pencapaian sanitasi total dalam pembangunan sanitasinya masing-masing. Dalam 5 tahun ke depan (2010-2014) STBM diharapkan telah diimplementasikan di 20.000 desa di seluruh kabupaten/kota.

Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan masalah air minum, higiene dan sanitasi masih sangat besar. Hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006, menunjukkan 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka.

Berdasarkan studi Basic Human Services (BHS) di Indonesia tahun 2006, perilaku masyarakat dalam mencuci tangan adalah

·         setelah buang air besar 12%

·         setelah membersihkan tinja bayi dan balita 9%

·         sebelum makan 14%

·         sebelum memberi makan bayi 7%

·         sebelum menyiapkan makanan 6%

Sementara studi BHS lainnya terhadap perilaku pengelolaan air minum rumah tangga menunjukan 99,20% merebus air untuk mendapatkan air minum, tetapi 47,50% dari air tersebut masih mengandung Eschericia coli. (Wikipedia/bang imam)

Kamis, 24 Februari 2011

BBWSCC Siap Bantu Normalisasi Kali Cikarang

TERCEMAR : Kali Cikarang sejak lama telah dicemari limbah. Perlu segera ditanggulangi dan dinormalisasi. Firmanto Hanggoro/Radar Bekasi
Cikarang Pusat – Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) mengaku siap menanggulangi pencemaran limbah di Kali Cikarang termasuk melakukan normalisasi sungai-sungai di Kabupaten Bekasi asal, urusan bangunan liar di bantaran sungai menjadi tanggung jawab Pemkab Bekasi.

Hal ini dilontarkan Sekretaris Komisi C Hasan Bisri usai bertemu dengan BBSCC di Tangerang kemarin.
“Kami komitmen untuk menyelesaikan masalah ini. Makanya kami meminta bantuan PJT II dan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane,” paparnya.

Bisri mengatakan, dari pertemuan Komisi C dengan PJT II disepakati, PJT II akan membentuk tim untuk meneliti jenis limbah yang dibuang ke Kali Cikarang dibantu dengan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kabupaten Bekasi.

“Insyaallah akhir Maret hasil penelitian dan investigasi dari tim gabungan sudah keluar. Dari hasil itu, kami akan mengetahui perusahaan apa saja yang membuang limbah dan akan dikenakan sanksi tegas dari Pemkab Bekasi,” jelas pria asal Sukatani ini.

Sementara tawaran yang diberikan balai besar wilayah sungai Ciliwung Cisadane cukup membantu pencegahan pencemaran limbah.

BBWSCC, beber Bisri akan melakukan normalisasi dan pembenahan di sepanjang bantaran Kali Cikarang termasuk melakukan penghijauan.

“Balai besar akan mengusulkan normalisasi dan penghijauan bantaran Kali Cikarang ke Kementrian Pekerjaan Umum (PU).

Tidak hanya Kali Cikarang, Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) dan Kali Sadang juga akan dinormalisasi dan bantarannya disiapkan untuk penghijauan,” kata Bisri.

Sementara anggota Komisi C Jamil mengungkapkan, dari pengakuan BBWSCC, Pemkab Bekasi tak pernah melaporkan pencemaran di Kali Cikarang.

Pihak BBWSCC sendiri menurut Jamil tidak menyangka kalau di Kabupaten Bekasi terjadi banyak permasalahan. ”Malah pihak BBWSCC kaget dengan banyaknya masalah yang ada di Kabupaten Bekasi,” ungkap Jamil.

Jamil menyayangkan dinas terkait tidak pernah aktif melakukan komunikasi baik dengan BBWSCC ataupun BBWSC. Kemana aja dinas selama ini, masak gak ada komunikasinya,” tukasnya. (mot/hum)

Sumber : RADAR BEKASI

Rabu, 23 Februari 2011

Septic Tank Komunal Permudah Pembangunan Sanitasi

CIMAHI, (PRLM).- Tujuh septic tank komunal dan infrastruktur lain yang sudah ada bisa mempermudah pembangunan sistem sanitasi terpadu di Kota Cimahi. Dengan modal itu, diharapkan anggaran untuk pengembangan tidak akan terlalu besar.

Team Leader PT Sinclair Knight Merz yang mewakili Ausaid Ross Kearton mengatakan, dengan luas wilayah yang tidak terlalu besar, pihaknya tidak akan terlalu repot menyusun rencana induk sistem sanitasi terpadu di Kota Cimahi. "Kami tinggal mengembangkan dan menyesuaikan skalanya dengan kemampuan finansial yang ada," kata di sela-sela "Workshop on strategic planning for waste water management in Cimahi", Rabu (23/2).

Saat ini, kata Ross, pihaknya sebagai perwakilan pemerintah Australia bersama pemkot Cimahi tengah menyusun rencana induk untuk pengembangan sistem sanitasi terpadu Kota Cimahi. Targetnya, penyusunan rencana induk rampung Juni 2011 mendatang.

Workshop Sanitasi di Cimahi/Foto : Ade Bayu/PR
Jika tidak ada hambatan, tambah Ross, rencana aksi untuk program tersebut juga bisa disusun dan diterapkan sampai lima tahun ke depan. Dalam realisasinya, pembangunan infrastruktur dan fasilitas sanitasi terpadu dilakukan bertahap selama dua puluh tahun.

Terkait pembiayaan, Ross mengatakan, sumber dana akan diupayakan bersama dari berbagai sumber. "Nanti kami lihat pemda mampu menyediakan berapa, bantuan dari pemerintah Australia berapa dan sisanya kami cari bersama dari sumber lain," katanya. (A-178/A-147)***

FOTO : PESERTA diskusi menyimak sambutan Wali Kota Cimahi Itoc Tochija dalam acara "Workshop on Strategic Planning for Wastewater Management in Cimahi", di Hotel Putri Gunung, Jln. Gunung Tangkubanparahu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (23/2). Acara yang diselenggarakan selama dua hari itu, untuk membicarakan mengenai perencanaan penataan sanitasi di Kota Cimahi. (Ade Bayu/Pikiran Rakyat)

Sumber : Pikiran Rakyat Online