LAMAN

Selasa, 27 Oktober 2020

Banjir Bekasi Yang Selalu Berulang

Bagaimana Letak Kota Bekasi sesungguhnya ?

Sejak malam minggu, group-group whatsapp (WA) dipenuhi dengan video dan gambar banjir di Bekasi. Ya...luapan Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas yang merupakan Subdas Sungai Bekasi merendam sebagian perumahan dan permukiman yang berada di bantaran Sungai Bekasi.

Jika hujan dengan intensitas tinggi dan lebat di kawasan hulu (Kabupaten Bogor) yang merupakan asal-muasal air mengalir menuju Bekasi, maka kita ramai-ramai mengatakan "Banjir Kiriman dari Bogor".

Bagaimana sesungguhnya letak Kota Bekasi sehingga selalu dihantui "Banjir Kiriman dari Bogor" setiap tahun?

Dibawah ini adalah peta wilayah administrasi Kota Bekasi (google maps) :


Jika kita melihat peta Kota Bekasi yang bergaris merah, lokasinya berada di tengah-tengah antara Kabupaten Bogor sebelah Selatan, Kabupaten Bekasi sebelah Timur dan Utara, serta Provinsi DKI Jakarta dan Kota Depok di sebelah Barat nya.

Kota Bekasi berada dipersimpangan besar, baik yang dihasilkan oleh alam berupa sungai, maupun buatan manusia, yaitu berupa Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Saluran Citarum (Kalimalang) dan Rel Kereta Api Pulau Jawa. 


Karena umumnya wilayah Kota Bekasi merupakan bekas rawa dan sawah, maka rata-rata daratan di Kota Bekasi tidak terlalu tinggi dengan dasar sungai dan muka air sungai yang mengalir di sekitarnya.

Sehingga jangan heran beberapa nama kampung di Kota Bekasi dimulai dengan kata-kata "Rawa". Seperti Rawa Tembaga di Kayuringin dan Rawa Aren misalnya di Bekasi Timur.

Berdasarkan data di Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWS Cilcis), sungai atau Daerah Aliran Sungai (DAS) yang melewati Kota Bekasi terdiri dari 4 DAS, yaitu, (1) DAS Sunter, (2) DAS Cakung, (3) DAS Bekasi, dan (4) DAS Blencong.

BACA JUGA :

1. Bencana Banjir Bekasi Awal Tahun 2020

2. Dampak Banjir di Kabupaten Bekasi Januari 2020

Nah, di malam minggu yang mencekam, tanggal 25 Oktober 2020, sungai yang meluap dan menyebabkan sebagian banjir di wilayah Kota Bekasi berasal dari DAS Bekasi yaitu Subdas Cileungsi, Subdas Cikeas, dan Subdas Bekasi.

Perlu di ketahui oleh masyarakat umum, Subdas Cileungsi (DAS Bekasi) mengalir dari Kabupaten Bogor hingga bertemu dengan Subdas Cikeas di Perumahan Pondok Gede Permai (PGP) Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi. (Titik koordinat -6.304336 dan 106.971878).

Subdas Cileungsi merupakan dan sekaligus menjadi batas administrasi antara Kota Bekasi dengan Kabupaten Bogor. Wilayah Kota Bekasi berada di sebelah timur Subdas Cileungsi dengan administrasi Kelurahan Cikiwul dan Kelurahan Bantargebang, Kecamatan Bantargebang.

Wilayah sebelah barat Subdas Cileungsi merupakan wilayah administrasi Kabupaten Bogor dengan Desa Ciangsana dan Desa Bojong Kulur Kecamatan Gunung Putri.

Permukiman dan perumahan yang rawan banjir disepanjang Subdas Cileungsi untuk kawasan Bogor berada di Desa Bojong Kulur, tepatnya di perumahan Vila Nusa Indah.

Sedangkan permukiman dan perumahan yang suka terkena bencana banjir di Kota Bekasi sekitar Kelurahan Bantargebang dan Cikiwul.

Sementara itu Subdas Cikeas merupakan batas administrasi antara Kabupaten Bogor dengan Kota Bekasi di sebelah timur Subdas Cikeas merupakan wilayah Bogor (Kecamatan Gunung Putri) dan wilayah barat Subdas Cikeas merupakan daerah Kota Bekasi (Kecamatan Jatisampurna dan Kecamatan Jatiasih).

Namun, rata-rata Subdas Cikeas menyebabkan banjir pada musim hujan umumnya setelah pertemuan Subdas Cikeas dan Subdas Cileungsi menjadi Subdas Bekasi di Pondok Gede Permai (PGP).

Kronologis Tinggi Muka Air (TMA)

Dari pemantauan monitoring tinggi muka air (TMA) di Cileungsi Hulu, Cileungsi Tengah, Cikeas dan pertemuan Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi menjadi Sungai Bekasi di Pondok Gede Permai (PGP), terpantau pada pukul 16.30 wib di hari Sabtu, 24 Oktober 2020 di Cileungsi Hulu ketinggian muka air masih normal, dikisaran 10 cm.

Setengah jam kemudian, pukul 17.00 wib, sudah naik hingga menjadi 90 cm, dan puncaknya terjadi pada pukul 20.19 dengan ketinggian muka air mencapai 590 cm.

Sementara di Cileungsi Tengah dengan waktu yang bersamaan tinggi muka air 215 cm. Untuk Sungai Cikeas pada malam minggu yang dipantau hingga pukul 20.45 wib masih tergolong kecil, yakni 95 cm.

Dari 8 jam perjalanan air dari Cileungsi Hulu ke pertemuan Cikeas-Cileungsi menjadi Sungai Bekasi terjadi kenaikan tinggi muka air puncak dengan ketinggian 740 cm, pukul 24.00 wib.

Dengan posisi tersebut, dapat dipastikan seluruh perumahan dan permukiman di bantaran Sungai Bekasi dinyatakan Siaga I.

Berikut ini kronologis kenaikan tinggi muka air :

Informasi Kronologis Kenaikan Tinggi Muka Air (TMA) dan Genangan (Sabtu-Minggu, 24-25 Oktober 2020)


Pukul (WIB)

Cileungsi Hulu

Cileungsi Tengah

Cikeas

Kali Bekasi

(PGP)

Sabtu, 24/10

 

 

 

 

16.00

-

20 cm

 

 

16.30

10 cm

 

65 cm

 

17.00

90 cm

20 cm

 

 

18.00

140 cm

40 cm

 

 

18.30

190 cm

90 cm

 

 

18.45

260 cm

95 cm

 

 

19.00

335 cm

120 cm

65 cm

90 cm

19.15

410 cm

160 cm

 

110 cm

19.30

495 cm

 

 

 

19.45

510 cm

 

 

 

20.00

540 cm

215 cm

95 cm

140 cm

20.15

590 cm

 

 

 

20.30

560 cm

 

 

 

20.45

500 cm

 

95 cm

 

24.00 (00.00)

 

 

 

740 cm

Minggu, 25/10

 

 

 

 

10.00

 

 

 

400 cm

 Sumber : BPBD Kota Bekasi, 2020

Dengan kenaikan tinggi muka air hingga 740 cm di pertemuan Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi menjadi Sungai Bekasi di Pondok Gede Permai (PGP), otomatis menyebabkan banjir di sejumlah perumahan dan permukiman yang berada di bantaran kali.

Banjir Capai 1,5 Meter

Sedikitnya ada 6 kecamatan yang terdampak banjir akibat luapan DAS Bekasi. Yaitu; Kecamatan Bantargebang, Jatiasih, Bekasi Selatan, Rawalumbu, Bekasi Timur dan Bekasi Utara. Sedangkan fasilitas yang terkena dampak banjir ada 2, yakni (1) Puskesmas Jakasetia dan Masjid Jakakencana.

Lebih rinci, terdampak banjir di Kota Bekasi pada Minggu, 25 Oktober 2020, terdiri dari : 6 kecamatan, 9 kelurahan, 14 RW, dan lebih dari 20 RT terdampak.

Sedangkan perumahan yang menjadi langganan banjir adalah, Pondok Gede Permai (PGP), Vila Jati Rasa, Komplek AL, Kemang IFI, Komplek Jatiasih Indah (PPA), Perum Depnaker, Perum Jaka Kencana, dan sejumlah permukiman di Rawalumbu, Bekasi Selatan, Bekasi Timur, dan Bekasi Utara.

Sedangkan fasilitas umum yang terdampak banjir adalah Puskesmas Jakasetia dan Masjid di Jaka Kencana.

Tinggi genangan bervariasi antara 30 cm sampai dengan 150 cm. Genangan sudah surut pada sore harinya. Dan yang mengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing.

Jumlah korban jiwa dalam banjir kali ini yang dinyatakan meninggal tidak ada. Namun, yang terdampak langsung mencapai 10.646 jiwa dengan jumlah KK mencapai 3.633 KK.

Berikut tabel wilayah yang terkena dampak banjir :

Wilayah Terdampak Banjir Kota Bekasi 25 Oktober 2020

 

No.

Kecamatan/Kelurahan

RT/RW

Jiwa/KK

Tinggi Genangan

1

Kecamatan Bantargebang (1. Kelurahan Bantargebang)

RT.001, RT.002

109 jiwa (27 KK)

150 cm

2

Kecamatan Jatiasih (2. Kelurahan Jatirasa)

 

a. Perumahan Pondok Gede Permai (PGP)

Rw.008, 009, 010

6.000 JIWA (1.500 kk)

50-100 cm

b. Perum. Vila Jati Rasa

RW.011, 012

1.400 KK

100-120 cm

c. Komplek AL

 

 

100-120 cm

d. Kemang IFI

 

 

150 cm

e. Komplek Jati Asih Indah (PPA)

 

 

30 cm

3

Kecamatan Bekasi Selatan (3. Kelurahan Jakasetia)

f. Perum Depnaker

 

 

50-100 cm

g. Perum Jaka Kencana

RW.002, 004

Puskesmas dan Masjid

60 cm

4

Kecamatan Rawalumbu

 

 

 

4. Kelurahan Bojongmenteng

RT.004, 005 RW.004

200 KK

100 cm

5. Kelurahan Sepanjangjaya

RT.005

30 KK/30 rumah

20 cm

5

Kecamatan Bekasi Timur

 

 

 

6. Kelurahan Margahayu

Jl. Mawar 6 RT.008 RW.003

270 jiwa (90 KK), 40 rumah

170 cm

 

7. Kelurahan Bekasijaya

RT.002 RW.008

5 KK

150 cm

RT.003

6 KK

 

RT.004

72 KK

 

RT.010

23 KK

 

RT.011

52 KK

 

RT. 012

8 KK

 

6

Kecamatan Bekasi Utara

 

 

 

8. Kelurahan Telukpucung

RT.006 RW.002

90 KK

 

RT.007

400 jiwa (100 KK)

 

9. Kelurahan Margamulya

RT.003, 004, 005 RW.007

30 KK

 

7

Fasilitas Umum

 

 

 

Puskesmas Jakasetia

 

 

 

Masjid Jakakencana

 

 

 

 Sumber :BPBD Kota Bekasi, 2020

Kejadian banjir terutama yang menimpa permukiman dan perumahan di sepanjang bantaran Sungai Bekasi disebabkan karena air rembes dari drainase komplek yang menuju sungai. Selain itu, jika puncak musim hujan, genangan air di sungai lebih rendah daripada daratan.

Banjir akan selalu berulang jika penanganan tidak dilakukan secara terpadu mulai dari hulu hingga hilir. Kerusakan alam di hulu sungai Cileungsi dan Cikeas harus menjadi perhatian. 

Mengingat dampak banjir rata-rata setiap tahun terus berulang dan menyebabkan kerugian materi dan bahkan korban jiwa.

Banjir kali ini tergolong lebih cepat surut, kurang dari 12 jam. Dengan intensitas hujan yang masih tinggi, banjir masih akan menghantui warga hingga 2-4 bulan ke depan.

#BangImamBerbagi #BanjirBekasi #2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan memberikan komentar yang tidak menghasut, memfitnah, dan menyinggung sara dan komentar menjadi tanggung jawab pemberi komentar. jika komentar lebih panjang dan memerlukan jawaban bisa ke email: bangimam.kinali@gmail.com, WA 0813-14-325-400, twitter: @BangImam, fb: Bang Imam Kinali Bekasi, ig: bangimam_berbagi