Jumat, 17 Oktober 2014

Mencari "Kambing Hitam" Soal Bully Bekasi

Siapa 'Kambing Putih' & 'Kambing Kuning'


Kota Bekasi (BIB) - Bicara soal Bekasi, yang dimaksudkan adalah Pemerintah Kota Bekasi dan Pemerintah Kabupaten Bekasi. Kedua daerah ini membentang dari Timur berbatasan dengan Kabupaten Karawang, dari Barat berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta, dari Utara berbatasan dengan Laut Jawa, dan dari Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kota Depok.

KOTA BEKASI

Bila dilihat sekilas profil Kota Bekasi saat ini, dari 12 kota metropolitan yang tersebar di Indonesia, Kota Bekasi berada di peringkat ke-4 dengan jumlah penduduk terbesar. Kota Bekasi hanya kalah dengan Kota Jakarta (DKI) menjadi urutan pertama; Kota Surabaya kedua; Kota Bandung ketiga, dan baru Kota Bekasi keempat.

Sementara itu, dibawah Kota Bekasi ada (5) Kota Medan; (6) Kota Tangerang; (7) Kota Depok; (8) Kota Semarang; (9) Kota Palembang; (10) Kota Makassar; (11) Kota Tangerang Selatan; dan (12) Kota Batam.


Artinya Kota Bekasi hanya kalah dari Jakarta, Surabaya, dan Bandung yang merupakan ibukota negara dan ibukota provinsi. Sementara untuk kota metropolitan diluar ibukota provinsi dan negara, Kota Bekasi berada di urutan pertama sebagai 'Kota Metropolitan' dengan sejuta permasalahannya.

Kota Bekasi adalah kota mitra ibukota negara Indonesia, DKI Jakarta dan juga kota sahabat untuk Kota Depok, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi. Karena berbatasan langsung dengan DKI Jakarta sebagai magnet masyarakat Indonesia, dan berbatasan dengan Kabupaten Bekasi sebagai pusat Industri dan pabrik-pabrik besar, Kota Bekasi akhirnya berkembang menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri.

Selain kota 'nomor 4' terpadat di Indonesia, wilayah kota ini sudah hampir lebih dari 50% menjadi kota terbangun atau kawasan efektif perkotaan dengan 90% nya merupakan kawasan perumahan dan permukiman. Sisanya 4% kawasan industri, serta 3% kawasan perdagangan.

Sehingga sangat sulit bagi kita untuk melihat Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Hutan Kota di tempat ini. Kalaupun ada hanya merupakan pulau dan badan jalan, sempadan sungai, dan peninggalan warisan Kabupaten Bekasi, yakni Kawasan Hutan Kota Bina Bangsa di Komplek GOR Patriot Kota Bekasi dan Kawasan Alun-Alun Kota Bekasi.

Kalaupun ada fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos/fasum) di kawasan perumahan, umumnya sudah dimanfaatkan warga menjadi parkir mobil, bangunan kantor RT/RW/Pos Ronda, sarana peribadatan dan sarana pendidikan serta sarana olahraga.

Dengan luas total wilayah Kota Bekasi saat ini hanya sekitar 210,49 km2 (81,27 mil2) atau berkisar 21.049 hektar, dengan jumlah penduduk hampir 2,6 juta maka daerah ini terlihat cukup padat, sumpek, dan kurang tertata dengan baik.

Profil Bekasi

Nama : Kota Bekasi

Ibukota : Margajaya, Bekasi Selatan

Luas : 210,49 km2 (81,27 mil2) urutan ke-31 dari seluruh kota di Indonesia

Populasi (sensus 2010) : 2.334.871 jiwa (urutan ke-4 dari jumlah penduduk seluruh kota di Indonesia) [catatan jumlah penduduk diukur dari sensus penduduk terakhir tahun 2010]

Kepadatan : 11.000/km2 atau 29.000 /sq mi (urutan ke-10 dari seluruh kota di Indonesia)

Jumlah Kecamatan : 12

Jumlah Kelurahan : 56

Walikota : Dr.H. Rahmat Effendi

Wakil Walikota : Ustadz H. Ahmad Syaikhu  

Berbicara perekonomian, seluruh wilayah Kota Bekasi menjadi pusat jasa dan perdagangan serta sentra industri kecil dan menengah. Sehingga potensi pendapatan asli daerah ini merupakan hasil pajak dari sektor jasa dan perdagangan yang menjadikan daerah ini dibanjiri Mal, Ruko, Apartemen, Perumahan Elit, dan jasa lainnya.

Sementara untuk mengakses kota ini terutama dari dan menuju ke Jakarta, dapat melewati Jl. Raya Bekasi (Pulogadung) Jakarta Timur, Jl. Raya Kalimalang, Jl. Tol Jakarta-Cikampek, Tol JORR Cikunir dan Cakung, serta Jl. Transyogi Cibubur.

Ada juga jalur keretapi api naik dari Stasiun Bekasi dan Stasiun Kranji. Angkutan umum terintegrasi Jakarta-Bekasi dapat naik dari Terminal Bekasi, Mega Bekasi Hypermall (MBH), Kota Harapan Indah dan beberapa perumahan yang menyediakan bus pengumpan trans Jakarta.

RTH

Ruang terbuka hijau saat ini yang sudah terbangun permanen dan dibuka untuk umum adalah, Taman Hutan Kota Alun-alun Kota Bekasi di Margajaya, Bekasi Selatan; Hutan Kota Bina Bangsa Komplek GOR Patriot; dan Taman Hijau Pekayon. Saat ini sedang proses penyelesaian Taman Kota di depan kantor Kecamatan Bantargebang.

KABUPATEN BEKASI

Kabupaten Bekasi saat ini lebih banyak dihuni oleh para urban, sehingga budaya di wilayah ini banyak berakulturasi dan kaya budaya. Selain kawasan industri yang menjadi andalan, Kabupaten Bekasi juga masih memiliki lahan pertanian dan pantai laut yang belum tergarap dengan baik.

Profil Kabupaten Bekasi

Nama : Kabupaten Bekasi

Ibukota : Kota Sukamahi, Cikarang Pusat

Luas : 1.484,37 km2

Populasi (sensus 2010) : 2.830.401 jiwa [catatan jumlah penduduk diukur dari sensus penduduk terakhir tahun 2010]

Kepadatan : 1.906,8 jiwa/km2

Jumlah Kecamatan : 23

Jumlah Kelurahan : 186

Walikota : dr. Hj. Neneng Hasanah Yasin

Wakil Walikota : H. Rohim Mintareja, S.Sos

Kabupaten Bekasi dialiri oleh 16 sungai dengan lebar berkisar antara 3 hingga 80 meter. Sungai dan Kali di Kabupaten Bekasi adalah; Citarum, Sungai Bekasi, Sungai Cikarang, Sungai Ciherang, Sungai Belencong, Sungai jambe, Sungai Sadang, Sungai Cikedokan, Sungai Ulu, Sungai Cilemahabang, Sungai Cibeet, Sungai Cipamingkis, Sungai Siluman, Sungai Serengseng, Sungai Sepak dan Sungai Jaeran.

Ke-16 sungai ini bermuara di Kecamatan Muaragembong, Kecamatan Tarumajaya dan Kecamatan Babelan.

Sungai ini umumnya sudah tercemar oleh limbah pabrik dari hulu. Kabupaten Bekasi sangat sulit menyelesaikan persoalan ini, karena wilayah kewenangan berada di Kementerian Pekerjaan Umum, pada Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

Wilayah kewenagan sungai juga terbagi dua, yaitu Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, yang dikelola oleh BBWS Cilcis yang membentang dari Tangerang, Bogor, Jakarta hingga batas Kali Cilemahabang. Sisanya di wilayah timur berbatasan dengan Kabupaten Karawang, sungai dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai Citarum.

Hingga saat ini pemanfaatan sungai di Kabupaten Bekasi sangat tergolong minim, jika dikatakan tidak ada. Padahal banyak sawah petani justru menanam dengan menunggu musim penghujan. 

Selain sungai, kekayaan daerah ini juga memiliki 13 situ, yang luasnya antara 3 hekar hingga 40 hektar. Ke-13 situ adalah Situ Tegal Abidin, Bojongmangu, Bungur, Ceper, Cipagadungan, Cipalahar, Ciantra, Taman, Burangkeng, Liang Maung, Cibeureum, Cilengsir, dan Binong.

Semua situ inipun belum ada yang dimanfaatkan baik untuk tampungan air hujan (pengendali banjir) maupun untuk tujuan pariwisata.

Magnet bermigrasi ke Kabupaten Bekasi adalah karena di daerah ini tumbuh ribuan pabrik dan industri, baik merupakan PMN maupun PMA. Pabrik dan industri ini berdiri di Kawasan Jababeka, EJIP, MM2100, GIIC, Kota Deltamas, Delta Silicon, BIIE. 

Kawasan industri tersebut digabung menjadi sebuah Zona Ekonomi Internasional (ZEI) yang memiliki fasilitas khusus di bidang perpajakan, infrastruktur, keamanan, dan fiskal.

Sumur pengeboran minyak bumi juga berada di Kabupaten Bekasi bagian utara, seperti di wilayah Babelan, Gabus, Muaragembong dan Cabangbungin.

Bully Bekasi...

Berdasarkan informasi singkat soal profil ke dua daerah Bekasi, dapat jelas terlihat bila persoalan infrastruktur, perumahan, ruang terbuka hijau, jalan, angkutan umum dan tata kota di tempat ini belum begitu optimal.

Sehingga wajar bila daerah ini di bully habis-habisan di media sosial, yang justru dilakukan oleh orang yang tinggal di Bekasi.

Usai di bully, Bekasi semakin terkenal, ya terkenal macetnya, terkenal panasnya, dan juga terkenal malnya.

Dari sekian bulyy-an masyarakat di media sosial, siapa yang menjadi kambing hitam ? bila berdasar pendapat masyarakat tentu yang disalahkan adalah "Walikota, Bupati, Wakil Walikota dan Wakil Bupati" sebagai pimpinan dan penanggung jawab daerah ini.

Namun, Walikota dan Bupati juga akan berkilah, karena tanggung jawab dan kewenangan sudah dilimpahkan kepada kepala SKPD, misal untuk tata kota ke Dinas Tata Kota dan Permukiman, jalan ke Dinas Bina Marga dan Tata Air, PJU ke Dinas PJU dan hutan kota dan sungai tercemar ke BPLH.

Sisanya ditimpakan juga ke Camat dan Lurah/Kepala Desa sebagai ujung tombak di lapangan yang langsung berhubungan dengan masyarakat.

Sementara, dilain pihak muncul juga 'kambing kuning' karena berada di wilayah abu-abu. Mereka sebetulnya bertanggung jawab minimal terhadap lingkungannya, seperti masyarakat yang kurang peduli lingkungan dan tanggung jawab RT/RW mengelola lingkungannya.

Lihat saja beberapa fasos/fasum di perumahan justru berubah fungsi jadi parkir mobil, atau jalan lingkungan menjadi parkir, sungai/kali dan saluran menjadi tempat buang sampah, lampu penerangan jalan di pemukiman dicuri dari gardu secara ilegal, dan banyak posko/ bangunan tidak sesuai dengan estetika kota.

Terus, muncul pula 'kambing putih' yang tidak pernah merasa bersalah, bahkan bangga dengan bully -an Bekasi, dia juga ikut-ikutan mem-bully, padahal dia harus sadar kalau ia tinggal dan bermukim di Bekasi.

Bahkan anggaran yang kuran juga ikut dituding, padahal PAD dan pajak belum maksimal didapatkan

Ayoo...siapa yang pantas jadi 'Kambing Hitam", "Kambing Putih" dan "Kambing Kuning" ???

(bang imam)




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan memberikan komentar yang tidak menghasut, memfitnah, dan menyinggung sara.

komentar menjadi tanggung jawab pemberi komentar.

jika komentar lebih panjang dan memerlukan jawaban bisa ke bangimam.kinali@gmail.com dan SMS/WA 085739986767

twitter: @BangImam

facebook: Bang Imam Kinali Bekasi